MENGUATKAN UKHUWAH DAN MENJAGA TRADISI ASWAJA DALAM HAUL PEJUANG PERINTIS YAYASAN SUNNIYYAH SELO
Oleh Ahmad Sifaus
Sarif, S.Pd*
Haul perintis pejuang Yayasan
Sunniyyah Selo yang berlangsung selama enam hari mulai hari sabtu (24/10/2020)
sampai dengan kamis (29/10/2020) diisi dengan berbagai rangkaian kegiatan
seperti lomba olahraga, khataman Al quran (binnadzor bil ghaib), ziarah makam perintis,
bakti sosial dan ditutup dengan pengajian umum.
Ada beberapa poin penting dalam
kegiatan tersebut yang bisa digarisbawahi sebagai bahan “renungan” dan
“motivasi” bagi seluruh warga atau civitas akademika institusi yayasan untuk
bisa menguatkan ukhuwah dan menjaga tradisi asawaja. Yang pertama yaitu dalam
kegiatan lomba-lomba olah raga yang telah mempertemukan sebagian besar guru dan
karyawan satu lembaga dengan lembaga yang lain. Mereka saling “bertarung”
membawa dan mewakili lembaga sendiri maupun atas nama lembaga lain (karena ada
lembaga yang personilnya terbatas), hal tersebut membawa dampak yang sangat
positif disamping dampak kesehatan juga berdampak pada sisi sosial institusi
yayasan, tatkala pada kesehariannya mereka disibukkan dengan jadwal kegiatan
belajar mengajar pada lembaga masing-masing maka pada kesempatan tersebut
mereka bisa saling berinteraksi, sapa menyapa dan mensupport satu sama lainnya
dan bahkan sebagai ajang perkenalan satu dengan yang lainnya.
Kita sering mendengar kata
pepatah “tak kenal maka tak sayang” memang benar adanya. Dalam suatu lembaga
agar menjadi kuat maka langkah pertama harus saling mengenal terlebih dahulu
kemudian dilanjutkan pada tahap penyamaan visi misi dan pada akhirnya tercapailah
tujuan bersama. Sungguh ironis atau mungkin “tragis” bilamana dalam satu wadah
institusi tidak mengetahui saudaranya sendiri atau tidak saling mengenal, maka
tepatlah bilamana kegiatan ini dilaksanakan demi kemajuan Yayasan Sunniyyah
selo. Sebagai gambaran hasil kegiatan lomba olah raga bisa dikatakan telah
berhasil dan sukses pada pelaksanaanya hal ini terbukti dari antusias dan
semangat para peserta yang bisa dikatakan 95% semua ikut berpartisipasi dan
yang lebih mengejutkan lagi (lebih pasnya menggembirakan) yaitu kepala lembaga
dan guru “sepuh” pun juga terjun ke lapangan tak terkecuali ketua yayasan Sunniyyah
sendiri.
Yang kedua yakni pada kegiatan
khataman Al quran dan ziarah makam, tradisi ini memang sudah menjadi kegiatan
rutin tahunan atau haul yayasan atau lebih tepatnya tradisi ahlussunnah wal
jama’ah. Dalam kegiatan khataman binnadzor dan bil ghaib setidaknya atau lebih tepatnya
berharap agar diberi kemudahan dan kelancaran serta kemanfaatan ilmu yang
didapat oleh siswa siswi madrasah Sunniyyah tak terkecuali dengan segala urusan
para guru dan karyawan, diyakini pula oleh civitas akademika bahwa majlis atau
tempat yang dibacakan Al Quran maka akan bersinar serta membawa kebaikan dan
keberkahan bagi para penghuninya.
Hal yang sama pada kegiatan
ziarah makam pendiri, Bagi faham ahlussunnah wal jama’ah pada hakikatnya
seseorang yang telah meninggal tidaklah meninggal yang sebenarnya melainkan mereka
masih hidup tetapi hanya berbeda alam. Mereka masih bisa “berinteraksi” dengan
makhluq yang masih hidup, maka dari itu para guru dan karyawan Sunniyyah
berkeyakinan bahwa dengan berziarah ke makam para pendiri yang notabenenya
mereka orang-orang sholih yang dekat dengan Allah swt bisa sebagai sarana
“berinteraksi” mengingatkan kembali akan jasa-jasa mereka serta berdoa semoga
bisa meneruskan perjuangan-perjuangan mereka.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar